Jumat, 14 Oktober 2011

PTK MATEMATIKA UT


BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
1.            Latar Belakang Masalah
   Pelajaran matematika pada tingkat Sekolah Dasar merupakan pelajaran yang baru pertama kalinya diterima oleh siswa di kelas rendah. Matematika merupakan salah satu bidang deduktif yang abstrak, sedangkan anak usia SD relatif berada pada pemikiran konkret dengan kemauan yang bervariasi sehingga strategi dan pendekatan psikologi sebagai jembatan sementara adalah salah satu alternatifnya.
Dalam pembelajaran matematika, tahap berpikir anak-anak usia SD belum formal dan relatif masih konkret ditambah lagi keanekaragaman intelegensinya, serta jumlah populasinya yang besar dan ditambah lagi wajib belajar 9 tahun. Agar proses pembelajaran berjalan dengan baik, seorang guru pada saat menyajikan bahan ajar kepada siswa menggunakan metode dan media yang kiranya tidak membuat siswa bosan pada saat menerima pelajaran. Metode merupakan salah satu cara yang digunakan guru dalam pembelajaran agar terjadi interaksi antarsiswa. Salah satu metode yang bisa digunakan dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika adalah metode konstruktivisme.
Prinsip-prinsip pengajaran dalam teori konstruktivisme pertama kali muncul di dalam tulisan Mark Baldwin dan kemudian secara luas diperdalam dan disebarkan oleh Jean Piaget (Von Glasersfeld, 1988 dalam Paul Suparno, 1997 : 24). Jean Piaget adalah seorang psikolog pertama yang berusaha menjelaskan bagaimana proses perkembangan pengetahuan seseorang dengan menggunakan beberapa istilah yang sering digunakannnya untuk menjelaskan proses seseorang dalam mencapai suatu pengertian, seperti skema / schemata, asimilasi, akomodasi, equilibration, dan teori adaptasi intelek (Paul Suparno, 1997 : 30).
Prinsip-prinsip pengajaran dalam teori konstruktivisme Piaget sekarang ini sudah banyak dikembangkan dan diterapkan dalam lingkungan pendidikan, khususnya pada pendidikan sains dan matematika. Secara umum prinsip-prinsip tersebut sangatlah berperan sebagai alat referensi dan alat refleksi terhadap praktek, pembaharuan, dan perencanaan pendidikan sains dan matematika (Paul Suparno, 1997 : 73)
Selain menggunakan metode dalam pembelajaran, seorang guru sebaiknya juga menggunakan media agar pembelajaran lebih mudah dipahami siswa sehingga hasil belajar siswa atau prestasi belajar siswa akan diperoleh setelah siswa menempuh proses dan pengalaman belajar. Proses kegiatan belajar mengajar sangat dipengaruhi oleh alternatif metode yang digunakan guru, sedangkan media pembelajaran mempunyai tujuan agar informasi atau bahan ajar tersebut dapat diterima dan diserap dengan baik oleh siswa dan pada akhirnya  terjadi perubahan-perubahan perilaku baik berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik).
Dalam kegiatan pembelajaran matematika, materi penjumlahan bilangan sampai 500 melalui penerapan metode konstruktivisme dan media pembelajaran tabung lidi warna di kelas II A semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 peneliti menjumpai tes hasil belajar siswa dari 38 siswa hanya 10 siswa yang mendapatkan nilai ≥ 60 atau prosentase klasikal hanya 26% .
2.            Identifikasi Masalah
      Setelah penulis mengetahui dari hasil refleksi dan hasil tes formatif yang diperoleh siswa, maka peneliti melakukan konsultasi dengan supervisor dan mendiskusikan dengan teman sejawat untuk mengungkapkan identifikasi kelemahan dari proses pembelajaran pada pokok bahasan yang menyatakan penjumlahan bilangan sampai 500 di kelas II A SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang.

Dari Sisi Siswa :
a.    Materi pembelajaran Matematika dianggap siswa cukup sulit
b.   Terbatasnya sarana dan prasarana di sekolah
c.    Alokasi waktu pembelajaran untuk operasi bilangan sangat kurang
d.   Siswa kurang memahami operasi bilangan
e.    Siswa kurang memahami cara penjumlahan bilangan sampai 500
f.    Siswa tidak dapat menyatakan penjumlahan bilangan sampai 500
g.   Interaksi tanya jawab kurang aktif
h.   Siswa tidak berani menanyakan materi yang kurang dipahami
i.     Siswa tidak bisa menyelesaikan tugas
j.     Siswa kurang sungguh-sungguh dalam memperhatikan pelajaran

Dari Sisi Guru :
a.    Guru kurang menguasai materi secara luas
b.   Guru kurang optimal dalam memanfaatkan media pembelajaran
c.    Media pembelajaran yang digunakan guru tidak menarik
d.   Pemilihan metode pembelajaran kurang bervariasi
e.    Guru kurang efektif dalam mengembangkan media pembelajaran
f.    Guru terlalu cepat dalam menjelaskan suatu materi
g.   Guru dalam menjelaskan materi terlalu abstrak
h.   Guru kurang memberikan contoh yang konkret
i.     Guru kurang memotivasi siswa
j.     Guru lebih aktif dengan metode ceramah yang didominasi selama pelajaran
      Dari data atau hal-hal yang terkait dengan masalah pembelajaran peneliti memfokuskan masalah yang akan diatasi melalui Penelitian Tindakan Kelas adalah pendekatan dan media pembelajaran yang digunakan guru. Adapun yang membantu peneliti dalam PTK ini adalah Bapak Bardah, S.Pd. guru Kelas IV A SD Negeri Pendrikan Lor 01.

3.            Analisis Masalah
      Dari hasil diskusi dengan supervisor dan teman sejawat bahwa analisis masalah pembelajaran yang terlalu diungkap adalah:
a.       Penggunaan metode konstruktivisme untuk memperjelas informasi guru.
b.      Penggunaan media tabung lidi warna untuk mengaktifkan siswa.
      Masalah tersebut muncul karena ada tiga faktor yang terjadi saat proses pembelajaran dari pra siklus, sampai siklus I diteruskan hingga siklus II sebagai berikut:
a.       Guru kurang menguasai materi pokok bahasan “Penjumlahan Bilangan Sampai 500”.
b.      Guru kurang memperhatikan perlunya media pembelajaran untuk memperjelas materi operasi bilangan.
c.       Rencana pembelajaran belum sesuai dengan panduan pembuatan rencana pembelajaran (RP) yang benar.
      Berdasarkan pengalaman sebagai guru, penyampaian materi dapat menggunakan pendekatan yang bervariasi disertai media pembelajaran yang sesuai dengan pokok bahasan yang disampaikan. Para siswa akan termotivasi apabila guru juga senantiasa bervariasi dalam suatu kegiatan akan menimbulkan semangat dan keingintahuan yang mendalam pada kegiatan tersebut.

B.        Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah yang telah peneliti ungkap, maka yang menjadi fokus perumusan masalah yang akan peneliti kemukakan adalah “Bagaimana cara meningkatkan hasil belajar mata pelajaran Matematika tentang penjumlahan bilangan sampai 500 melalui penerapan metode konstruktivisme dan media pembelajaran tabung lidi warna siswa kelas II A semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang tahun pelajaran 2010-2011?”.

C.       Tujuan Penelitian
Peneliti melakukan penelitian tentang materi “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” di kelas II A semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 dengan tujuan
a.       Mendeskripsikan dampak penerapan metode konstruktivisme untuk penjumlahan bilangan sampai 500.
b.      Mendeskripsikan / menganalisis dampak penggunaan media pembelajaran tabung lidi warna untuk penjumlahan bilangan sampai 500.

D.       Manfaat Penelitian
Berdasarkan perumusan diatas, tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah:
a.       Mengupayakan peningkatan hasil belajar belajar matematika untuk materi tentang “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” pada kelas II A semester 2 di SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang.
b.      Untuk memperbaiki kinerja guru dalam melaksankan proses belajar mengajar.
c.       Untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Kemampuan Profesional PDGK 4501 Strata 1 FKIP PGSD Universitas Terbuka. 
 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.       Penerapan Metode Konstruktivisme dalam Pembelajaran
1.            Pengertian Metode Konstruktivisme dan Media Pembelajaran
Matematika merupakan suatu ilmu yang terus berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam mempelajari matematika pada tingkat dasar harus dilandasi banyak latihan. Lebih-lebih untuk anak Sekolah Dasar yang masih dalam taraf pemikiran sederhana. Para guru di Sekolah Dasar dituntut untuk mampu mengembangkan alam berfikir anak-anak.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka cetakan Tahun 2005  halaman 740), pengertian metode adalah cara yang teratur dan berfikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya) cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Sedangkan konstruktivisme pertama kali dikemukakan oleh Jean Piaget. Beliau adalah salah satu psikolog yang menjelaskan proses pengetahuan seseorang dalam teori perkembangan intelektual. Dia berfikir bahwa perkembangan  pemikiran juga mirip dengan dengan perkembangan psikologis, yaitu beradaptasi dan mengorganisasi lingkungan sekitar.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka cetakan Tahun 2005), makna dari konstruktivisme itu sendiri adalah berkenaan dengan konstruksi ; bersifat membangun ; memperbaiki ; dan sebagainya. Teori konstruktivisme pada dasarnya merupakan teori adaptasi pikiran ke dalam suatu realitas (kenyataan). (Piaget, 1971 dalam Paul Suparno, 1997 : 30).

2.            Kelebihan Metode Konstruktivisme
a.       Membuat siswa senang dalam pelajaran
b.      Lebih mudah memahami karena mengalami sendiri
c.       Siswa menjadi aktif dalam pelaksanaan pembelajaran
d.      Dapat mengembangkan sifat kritis
e.       Siswa menjadi puas dengan apa yang sudah dicapai
f.       Siswa percaya diri

3.            Kelemahan Metode Konstruktivisme
a.       Membutuhkan metode konstruktivisme
b.      Apabila siswa tidak aktif akan mempengaruhi hasil
c.       Tidak ada motivasi sehingga siswa tidak akan puas
d.      Siswa belum terbiasa dengan metode konstruktivisme
Selain  pengertian metode diatas, dapat dijelaskan bahwa media adalah sebagai berikut:
Menurut Soeparno (1988:1) media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) atau informasi dari suatu sumber (resource) kepada penerimanya (receiver).
 Gerlach& Ely (dalam Arsyad, 2005: 3) menyatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian ini, guru, buku teks dan lingkungan sekolah merupakan media, secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau herbal.
Terdapat berbagai jenis media untuk pembelajaran, diantaranya: a) media visual, contohnya: koran, majalah, gambar, grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, dan komik; b) media audiovisual, contohnya: radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya; c)  projected still media, contohnya: slide, over head projector (OHP), in focus dan sejenisnya; d) projected motion media, contohnya: film, televisi, video (VCD,DVD,VTR), komputer dan sejenisnya.


B.        Peranan Metode Konstruktivisme dalam Pendidikan
Prinsip-prinsip konstruktivisme sekarang ini telah banyak digunakan di dalam dunia pendidikan khususnya pada mata pelajaran sains dan matematika. Secara umum prinsip konstruktivisme mempunyai dua macam peran pokok, yaitu sebagai referensi dan sebagai alat refleksi kritis terhadap segala praktikum, pembaharuan, dan perencanaan dalam pendidikan sains dan matematika. Prinsip-prinsip yang sering dipakai dari teori konstruktivisme adalah : (1) prinsip bahwa pengetahuan itu dibangun oleh siswa secara aktif, (2) prinsip pemberian tekanan dalam proses yang terletak pada siswa, (3) prinsip bahwa mengajar adalah membantu siswa belajar, (4) prinsip pemberia tekanan dalam proses belajar secara lebih daripada hasil akhirnya, (5) prinsip kurikulum yang menekankan partisipasi aktif siswa, dan (6) prinsip bahwa guru adalah sebagai fasilitator. Dengan adanya keenam prinsip tersebut, maka dapat digunakan sebagai acuan dalam membuat perencanaan program persiapan guru, membuat pembaharuan kurikulum dan untuk membuat evaluasi praktek belajar mengajar yang sudah berjalan (berlangsung).
Seorang guru yang menggunakan prinsip konsruktivisme sebagai referensi untuk menyusun metode mengajarnya, maka ia akan menggunakan penekanan pada keaktifan siswa secara maksimal untuk dapat belajar secara sendiri maupun belajar secara bersama dalam suatu kelompok. Guru dapat mencari cara untuk dapat lebih mengerti dan mengetahui tentang segala yang sedang dipikirkan dan dialami oleh siswa dalam proses belajar. Dia pun juga memikirkan bagaimana memikirkan bagaimana memberikan beberapa kegiatan dan aktivitas yang dapat merangsang siswa dalam berfikir. Sehingga interaksi antarsiswa di kelas dapat dihidupkan, dan siswa diberi suatu kebebasan dalam mengungkapkan suatu gagasan dan pemikirannya (Fosnot, 1988 dalam Paul Suparno, 1997 : 73).
Dalam metode konstruktivisme, seorang siswa dapat bekerja bersama dengan siswa lain dalam suatu kelompok ; dapat mengartikan persoalan yang diberikan oleh guru ; dan dapat mencoba untuk memecahkan suatu persoalan yang rumit. Dalam hal ini seorang guru juga mempunyai peran sebagai mediator, pemberi keyakinan terhadap apa yang telah diketahui oleh siswa, dan perangkai segenap tugas-tugas yang dapat membangun pengetahuan siswa. Dengan cara inilah siswa dapat mencari arti dalam suatu kelompok kecil, lalu ia mengadakan persetujuan dengan kelompok besar / kelas. Sehingga tugas guru selanjutnya adalah sebagai pemonitor terhadap pengertian siswa, dan sebagai pembimbing diskusi yang dilakukan oleh siswa agar menjadi lebih aktif dan mendapatkan suatu kesempatan untuk mengungkapkan pengertiannya. Selain itu guru juga akan menjadi aktif dalam kegiatan mencari penjelasan, menanyakan kebenaran, dan mengevaluasi alternatif yang ada. Bagi siswa, maka seorang guru berfungsi sebagai mediator, pemandu, dan sekaligus teman belajarnya (Tobin, Tippins, & Gallard, 1994 dalam Paul Suparno, 1997 : 74)
Seorang guru yang menggunakan prinsip konstruktivisme sebagai alat refleksi, maka ia akan menggunakan penekanan pada penilaian dan pengevaluasian praktek belajar mengajar, apakah sudah sesuai dengan prinsip konstruktivisme atau belum (Tobin, Tippins, & Gallard, 1994 dalam Paul Suparno). Sehingga siswa dapat belajar secara lebih baik dalam suatu konteks bersama teman-temannya dan juga ia tidak akan mengalami salah persepsi atau salah tangkap terhadap apa yang telah dipelajarinya.
BAB III
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A.       Subjek Penelitian
1.            Tempat Pelaksanaan
Tempat pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, adalah kelas II A SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang.
2.            Waktu Pelaksanaan
Mata pelajaran Matematika dilaksanakan tanggal:
Pra siklus Sabtu, 26 Februari 2011
Siklus I    Rabu, 02 Maret 2011
Siklus II   Rabu, 09 Maret 2011
3.            Karakteristik Siswa
a.       Siswa kurang punya motivasi dan minat dalam belajar Matematika, karena siswa merasa momok pada pelajaran Matematika.
b.      Waktu yang digunakan siswa sangat sempit sebab siang sampai sore hari siswa mengaji.
c.       Kurangnya perhatian orang tua terhadap putra-putrinya, karena keterbatasn pendidikan orang tuanya yang rata-rata hanya lulus SD/MI
d.      Sebagian siswa terbuai dengan tayangan televisi, sehingga menyita waktu belajarnya.
B.        Deskripsi Per- Siklus
Dalam bagian ini disajikan hasil penelitian yang sesuai dengan analisis dan tujuan penelitian. Pada awal pembelajaran (pra siklus) proses pembelajaran belum mencapai target standar ketuntasan minimal (KKM). Dari 38 siswa hanya 10 siswa yang nilainya diatas rata-rata 60, berarti hanya 10 siswa yang dapat mencapai target ketuntasan atau sekitar 26 %. Pada siklus I terdapat peningkatan hasil pembelajaran setelah guru menggunakan metode konstruktivisme. Pada siklus II sudah ada lebih dari 80 % siswa yang mencapai ketuntasan dan hanya 8 % saja yang masih dibawah standar ketuntasan belajar minimal.
Selanjutnya hasil pembelajaran di ungkap dalam deskripsi per siklus sebagai berikut:
Siklus I
1.      Perencanaan
a.          Mencari permasalahan dan merumuskan masalah
b.         Merancang pembelajaran dengan menitikberatkan pada pemberian beberapa contoh soal dan pemberian latihan yang cukup bagi siswa termasuk kerja kelompok dalam mengerjakan LKS.
c.          Menyiapkan media yang diperlukan dalam proses perbaikan pembelajaran.
d.         Menyusun lembar observasi sebagai panduan bagi observer dalam mengobservasi pelaksanaan perbaikan pembelajaran.
e.          Menyusun tes formatif. 

2.      Pelaksanaan
Langkah-langkah kegiatan dalam perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.             Kegiatan Awal (5 menit)
1)            Apersepsi
·         Mengadakan tanya jawab materi pelajaran yang lalu yaitu menyebutkan macam-macam simbol yang digunakan dalam pengerjaan operasi hitung bilangan
·         Membaca simbol +, -, = dalam pengerjaan operasi hitung bilangan
2)            Informasi
Guru menyampaikan materi pelajaran yang akan diajarkannya
b.            Kegiatan Inti (40 menit)
·               Guru menjelaskan cara menjumlah bilangan dengan satu kali teknik menyimpan
·               Guru memberikan pertanyaan pada siswa cara menyelesaikan soal penjumlahan bilangan dengan satu kali teknik menyimpan
·               Beberapa siswa ditunjuk untuk mengerjakan contoh soal di papan tulis
·               Guru menjelaskan cara menggunakan media tabung lidi warna
·               Beberapa siswa ditunjuk untuk menyelesaikan soal dengan media tabung lidi warna
·               Guru melakukan penekanan penjelasan kepada siswa tentang penggunaan media tabung lidi warna
c.             Kegiatan Akhir (20 menit)
·               Mengadakan evaluasi
·               Mengoreksi hasil evaluasi
·               Memberi PR (sebagai program tindak lanjut)

3.      Pengamatan
a.       Observer mengamati jalannya pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru pada pemahaman penjumlahan bilangan sampai 500.
b.      Observer mencatat semua temuan pada soal proses pembelajaran. Dari pengamatan terhadap guru yang mengajar diperoleh temuan sebagai berikut:
·                     Sebelum kegiatan ini, guru sudah memberikan apersepsi dengan jelas.
·                     Dalam menjelaskan mata pelajaran, guru terlalu cepat dan kurang dimengerti siswa
·                     Dalam penyampaian materi, guru jarang menggunakan media pembelajaran.
c.       Peneliti dan pengamat berdiskusi tentang temuan dalm proses pembelajaran dan mengambil kesimpulan sebagai hasil refleksi.

4.      Refleksi
        Setelah peneliti memberikan pembelajaran siklus I mata pelajaran Matematika materi pokok “Penjumlahan Bilangan” dan evaluasinya, maka dari 38 siswa hanya 24 siswa yang mencapai ketuntasan, atau hanya sekitar 63 %. Dalam hal ini sudah terjadi peningkatan hasil pembelajaran siswa, yaitu sekitar 37 % dari pembelajaran pra siklus.
        Dalam hal ini dapat diperoleh gambaran bahwa berlangsungnya pembelajaran kurang sesuai harapan, walaupun guru sudah member kesempatan siswa untuk bertanya. Kenyataan lain menunjukkan rendahnya hasil pembelajaran disebabkan oleh penjelasan guru yang kurang menarik siswa. Oleh karena itu, guru berusaha mencari jalan keluar untuk melakukan perbaikan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

Siklus II
1.      Perencanaan
a.          Menentukan alat dan bahan yang digunakan
b.         Menentukan langkah-langkah kerja
c.          Memberi latihan soal-soal
d.         Langkah-langkah perbaikan pembelajaran
.
2.      Pelaksanaan
Langkah-langkah kegiatan dalam perbaikan pembelajaran adalah sebagai berikut:
a.       Kegiatan Awal (5 menit)
1)      Apersepsi
·         Mengadakan tanya jawab materi pelajaran yang lalu yaitu menyebutkan macam-macam simbol yang digunakan dalam pengerjaan operasi hitung bilangan
·         Membaca simbol +, -, = dalam pengerjaan operasi hitung bilangan
2)      Informasi
Guru menyampaikan materi pelajaran yang akan diajarkannya
b.      Kegiatan Inti (40 menit)
·               Guru menjelaskan cara menjumlah bilangan dengan satu kali teknik menyimpan
·               Guru memberikan pertanyaan pada siswa cara menyelesaikan soal penjumlahan bilangan dengan satu kali teknik menyimpan
·               Beberapa siswa ditunjuk untuk mengerjakan contoh soal di papan tulis
·               Guru menjelaskan cara menggunakan media tabung lidi warna
·               Beberapa siswa ditunjuk untuk menyelesaikan soal dengan media tabung lidi warna
·               Guru melakukan penekanan penjelasan kepada siswa tentang penggunaan media tabung lidi warna
c.       Kegiatan Akhir (20 menit)
·               Mengadakan evaluasi
·               Mengoreksi hasil evaluasi
·               Memberi PR (sebagai program tindak lanjut)

3.      Pengamatan
Dari hasil pengamatan terhadap guru yang mengajar, diperoleh temuan sebagai berikut:
·                     Dalam menyampaikan materi penjumlahan bilangan sampai 500, guru sudah menggunakan  media tabung lidi warna.
·                     Dalam menjelaskan materi pembelajaran, guru memberi kesempatan siswa untuk menjawabnya dan menunjuk salah satu siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Dari hasil pengamatan siswa diperoleh temuan:
·                     Siswa tampak percaya diri dalam mengajukan pertanyaan
·                     Jika guru memberikan pertanyaan siswa berebut untuk menjawabnya
·                     Hampir semua kelompok dapat mengerjakan tugas dengan baik tanpa banyak mengalami kesulitan
·                     Kerja kelompok tampak hidup dan kreatif

4.      Refleksi
        Pelaksanaan refleksi ini, perbaikan pembelajaran materi secara runtut dan sistematis. Dengan menggunakan metode yang tepat dapat membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Siswa aktif dalm mengikuti proses pembelajaran dan merasa senang menerima pembelajaran.  
        Setelah peneliti memberikan pembelajaran siklus II mata pelajaran Matematika materi pokok “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” dan evaluasinya, maka dari 38 siswa didapati 35 siswa yang sudah mencapai ketuntasan, atau sekitar 92 %. Dalam hal ini sudah terjadi peningkatan hasil pembelajaran siswa, yaitu sekitar 29 % dari pembelajaran siklus I. Jadi, sudah ada lebih dari 80 % siswa yang mencapai ketuntasan dan hanya 8 % saja yang masih dibawah standar ketuntasan belajar minimal.
        Dengan demikian hasil yang diperoleh pada akhir siklus II sudah sesuai dengan apa yang diharapkan dan tujuan perbaikan pembelajaran yaitu memperoleh nilai sesuai dengan ketuntasan peneliti dan teman sejawat juga merasa puas.

 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.       Deskripsi Per Siklus
Dalam bagian ini disajikan hasil penelitian yang sesuai dengan analisis dan tujuan penelitian. Pada awal pembelajaran (pra siklus) proses pembelajaran belum mengalami setiap ketuntasan, pada siklus I terdapat peningkatan hasil pembelajaran setelah guru menggunakan metode konstruktivisme, pada siklus II hasil pembelajaran mengalami ketuntasan setelah guru menggunakan media tabung lidi warna. Selanjutnya hasil pembelajaran diungkap dalam deskripsi per siklus sebagai berikut:
Siklus I
1.      Perencanaan
Hasil perencanaan berupa: merancang pembelajaran dengan metode konstruktivisme; membuat rencana perbaikan pembelajaran; menyiapkan media pembelajaran; menyusun lembar observasi; merancang tes formatif dan mengevaluasi hasil tes, telah dapat menunjang pelaksanaan proses pembelajaran.
2.      Pelaksanaan
Hasil yang dicapai pada proses pembelajaran berorientasi pada kegiatan guru di kelas, antara lain:
a.          Kegiatan awal berupa: berdoa, mencatat kehadiran siswa, menyiapkan buku pelajaran, mengadakan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Hal tersebut dapat memotivasi siswa dalam mengarahkan dan mempersiapkan siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik.
b.         Kegiatan inti berupa:  informasi, penjelasan materi pelajaran, mengadakan tanya jawab, membentuk kelompok diskusi, memberi tes formatif, penilaian dan tindak lanjut PR. Hal tersebut dapat membantu siswa memperjelas materi belajar di kelas sehingga siswa mampu mendeskripsikan dan menganalisis materi pelajaran dari pokok bahasan tentang operasi bilangan.
c.          Kegiatan akhir berupa: pelaksanaan tes formatif, sehingga guru dapat mengukur keberhasilan proses pembelajaran melalui ketuntasan nilai yang diperoleh siswa. Pada siklus I terdapat peningkatan hasil evaluasi karena guru telah melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode konstruktivisme dan tanya jawab yang hasilnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran.
3.      Pengamatan
Observer mengamati jalannya pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru dan kegiatan siswa yang hasilnya: persiapan = sedang ; membuka pelajaran = sedang ; memotivasi siswa = kurang ; penguasaan materi = sedang;
penyajian sesuai dengan uruta materi = sedang ; metode = sedang ; bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar = sedang ; pelaksanaan evaluasi = sedang ; pelaksanaan sesuai alokasi waktu = sedang ; penggunaan media = kurang ; mengakhiri pembelajaran = sedang.
4.      Refleksi
REKAPITULASI LEMBAR OBSERVASI
AKTIVITAS GURU SELAMA PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran         :           Matematika
Siklus                       :           I (satu)
Hari / Tanggal          :           Rabu, 02 Maret 2011

NO
AKTIVITAS GURU
K
S
B
1
Persiapan
-
-
2
Membuka pelajaran
-
-
3
Memotivasi siswa
-
-
4
Penguasaan materi
-
-
5
Penyajian sesuai dengan urutan materi
-
-
6
Metode
-
-
7
Bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar
-
-
8
Pelaksanaan evaluasi
-
-
9
Pelaksanaan sesuai alokasi waktu
-
-
10
Penggunaan alat peraga
-
-
11
Mengakhiri pembelajaran
-
-

Cara mengatasi masalah
a.                Guru menguasai materi pembelajaran.
b.               Guru dalam menyampaikan materi menggunakan media pembelajaran yang menarik serta penggunaan metode yang bervariasi.
c.                Guru membuat perencanaan pembelajaran yang benar.
d.               Guru memotivasi siswa untuk memperhatikan penjelasan dengan sungguh-sungguh serta mendorong siswa agar berani bertanya tentang materi yang belum dimengerti.

Siklus II
1.      Perencanaan
Hasil perencanaan berupa merancang pembelajaran dengan membuat rencana perbaikan pembelajaran dengan menggunakan media berupa tabung lidi warna, menyusun lembar observasi, merancang tes formatif. Sehingga hasilnya  telah menunjang pelaksanaan proses pembelajaran secara sistematis artinya susunan program atau struktur dapat diketahui yang tersedia ruang lingkupnya.
2.      Pelaksanaan
Hasil yang dicapai pada proses pembelajaran berorientasi pada kegiatan guru di kelas antara lain: memperagakan penggunaan media, mengadakan tanya jawab, member contoh soal yang berkaitan dengan media tabung lidi warna. Hal ini dapat mengaktifkan siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga siswa mampu menganalisis materi pelajaran dengan pokok bahasan operasi penjumlahan bilangan sampai 500.
3.       Pengamatan
Observer mengamati jalannya pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru dan kegiatan siswa yang hasilnya: persiapan = baik ; membuka pelajaran = baik ; memotivasi siswa = baik ; penguasaan materi = baik ; penyajian sesuai dengan urutan materi = baik ; metode = baik ; bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar = baik ; pelaksanaan evaluasi = baik ; pelaksanaan sesuai alokasi waktu = baik ; penggunaan media = baik ; mengakhiri pembelajaran = baik.
4.      Refleksi
REKAPITULASI LEMBAR OBSERVASI
AKTIVITAS GURU SELAMA PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran               :           Matematika
Siklus                             :           II (dua)
Hari / Tanggal                :           Rabu, 09 Maret 2011

NO
AKTIVITAS GURU
K
S
B
1
Persiapan
-
-
2
Membuka pelajaran
-
-
3
Memotivasi siswa
-
-
4
Penguasaan materi
-
-
5
Penyajian sesuai dengan urutan materi
-
-
6
Metode
-
-
7
Bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar
-
-
8
Pelaksanaan evaluasi
-
-
9
Pelaksanaan sesuai alokasi waktu
-
-
10
Penggunaan alat peraga
-
-
11
Mengakhiri pembelajaran
-
-

Keberhasilan dan Kegagalan
           Merupakan deskripsi dari kegiatan evaluasi sebagai salah satu alat ukur keberhasilan proses pembelajaran sehingga dapat diketahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang berupa aspek ingatan,pemahaman, penerapan (aplikasi), analisis dan sintesis.

1.            Hasil evaluasi sebelum perbaikan
Tabel 1
Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika
Sebelum Perbaikan Pembelajaran
No
Rentang nilai
Jumlah
Prosentase (%)
1.
50-59
28
73,68
2.
60-69
5
13,16
3.
70-79
5
13,16
4.
80-89
0
0
5.
90-100
0
0

Jumlah
38
100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil evaluasi mata pelajaran Matematika dengan materi “ Penjumlahan Bilangan Sampai 500”, kelas II A Semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. Sebelum kegiatan perbaikan pembelajaran, dari 38 orang siswa yang mendapatkan nilai 50-59 sebanyak 28 siswa, nilai 60-69 sebanyak 5 siswa, nilai 70-79 sebanyak 5 siswa, serta yang mendapatkan nilai 80-89 dan 90-100 sebanyak 0 siswa.
Apabila hasil evaluasi mata pelajaran Matematika dengan materi “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” sebelum perbaikan pembelajaran tersebut disajikan dalam, maka terlihat seperti gambar berikut ini:

Gambar 1 :  Grafik Hasil Evaluasi Pra Siklus

2.            Tabel  hasil evaluasi siklus I
Tabel 2
Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika Siklus I

No
Rentang nilai
Jumlah
Prosentase (%)
1.
50-59
13
34,21
2.
60-69
15
39,47
3.
70-79
5
13,16
4.
80-89
5
13,16
5.
90-100
0
0

Jumlah
38
100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil evaluasi mata pelajaran Matematika dengan materi “ Penjumlahan Bilangan Sampai 500”, kelas II A Semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. Pada akhir perbaikan siklus I, dari 38 orang siswa yang mendapatkan nilai 50-59 sebanyak 13 siswa, nilai 60-69 sebanyak 15 siswa, nilai 70-79 sebanyak 5 siswa, mendapatkan nilai 80-89 sebanyak 5 siswa dan 90-100 sebanyak 0 siswa.
         Apabila hasil evaluasi mata pelajaran Matematika pada akhir kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I tersebut disajikan dalam diagram, maka akan terlihat pada gambar 2 berikut:


Gambar 2 : Grafik Hasil Evaluasi Siklus I



3.            Tabel hasil evaluasi siklus II
Tabel 3
Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika Siklus II

No
Rentang nilai
Jumlah
Prosentase (%)
1.
50-59
3
7,89
2.
60-69
17
44,74
3.
70-79
9
23,68
4.
80-89
5
13,16
5.
90-100
4
10,53

Jumlah
38
100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil evaluasi mata pelajaran Matematika dengan materi “ Penjumlahan Bilangan Sampai 500”, kelas II A Semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. Pada akhir perbaikan siklus II, dari 38 orang siswa yang mendapatkan nilai 50-59 sebanyak 3 siswa, nilai 60-69 sebanyak  17 siswa, nilai 70-79 sebanyak 9 siswa, mendapatkan nilai 80-89 sebanyak 5 siswa dan 90-100 sebanyak 4 siswa.
Apabila hasil evaluasi mata pelajaran Matematika pada akhir kegiatan pembelajaran siklus II disajikan dalam diagram, maka akan terlihat seperti gambar 3 berikut :
Gambar 3  : Grafik Hasil Evaluasi Siklus II
Berdasarkan tabel 1, 2, dan 3 hasil perolehan data mata pelajaran Matematika dengan materi “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” kelas II A semester 2 ternyata ada peningkatan ketuntasan hasil belajar dari sebelum perbaikan pembelajaran siklus I sampai siklus II, siswa yang tuntas adalah siswa yang mendapat nilai 60 ke atas dalam kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan pembelajaran pra- siklus ada 10 siswa yang mencapai nilai tuntas yaitu sekitar 26%. Pada kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I mengalami peningkatan menjadi 24 siswa atau 63%. Dan pada perbaikan pembelajaran siklus II bertambah meningkat menjadi 35 siswa atau 92%. Dengan demikian peneliti tidak perlu lagi melanjutkan ke perbaikan pembelajaran siklus III, karena sudah lebih dari 80% siswa yang mendapatkan nilai tuntas. Apabila hasil perolehan data tersebut disajikan dalam bentuk tabel, maka dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini :


Tabel 4
Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar
NO
KETUNTASAN
PRA-SIKLUS
SIKLUS I
SIKLUS II
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%
1
Tuntas
10
26
24
63
35
92
2
Belum Tuntas
28
74
14
37
3
8

Dengan melihat data diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Sebelum perbaikan pembelajaran (pra–siklus) siswa yang tuntas hanya 10 dari 38 siswa (26%)
b.      Pada siklus I siswa yang tuntas hanya 24 dari 38 siswa (63%)
c.       Pada siklus II siswa yang tuntas 35 dari 38 siswa (92%)
Sedangkan siswa yang belum tuntas sebagai berikut:
a.          Sebelum perbaikan pembelajaran (pra–siklus), 28 siswa belum tuntas (74%)
b.         Pada siklus I 14 dari 38 siswa belum tuntas (37%)
c.          Pada siklus II hanya ada 3 dari 38 siswa yang belum tuntas (8%)
Bila ketuntasan hasil belajar dalam bentuk diagram, maka dapat dilihat pada gambar 4 berikut ini:




Gambar 4 : Grafik Ketuntasan Hasil Evaluasi Belajar Siswa

B.        Pembahasan dari Setiap Siklus
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari proses perbaikan pada pra-siklus, perbaikan siklus I dan siklus II terbukti bahwa pembelajaran memerlukan kompetensi yang tinggi dari seoran guru. Banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan suatu pembelajaran.
Dari beberapa kajian teori mengenai pembelajaran, yang paling menemukan keberhasilan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran itu meliputi cara memilih strategi, metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran.
SIKLUS I
Pembelajaran pada siklus I masih terdapat hal yang belum dilaksanakan oleh guru secara optimal seprti penggunaan media sehingga tingkat pemahaman siswa terhadap materi ajar masih rendah.
Pelaksanaan diskusi kelompok masih kurang menarik minat siswa. Hal ini disebabkan kurang jelasnya penjelasan/instruksi guru kepada siswa dalam menyelesaikan tugas.
Hasil analisis penilaian menunjukkan masih rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Dari 38 siswa yang mendapat nilai tuntas hanya 24 siswa dan 14 siswa blum mencapai nilai tuntas. Nilai rata-rata kelas 60. Dengan demikian peneliti merencanakan perbaikan pembelajaran siklus II.
SIKLUS II
Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II peneliti merancang pembelajaran dengan persiapan yang lebih matang. Media yang digunakan berupa tabung lidi warna untuk tiap 5 kelompok kerja siswa.
Analisis penilaian hasil yang diperoleh lebih baik dari pada perbaikan pembelajaran siklus I. Keberhasilan pembelajaran ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran guru menggunakan media secara efektif disertai penjelasan penggunaan metode konstruktivisme dan metode penunjang berupa metode pemberian tugas dan diskusi kelompok, sehingga dengan tugas yang dirancang akan memperjelas informasi guru. Selain itu, keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas kelompok akan meningkatkan pemahaman terhadap materi pembelajaran.
Dengan demikian, seperti apa yang dikemukakan pada kajian teori bahwa pembelajaran akan menyenangkan dan bermakna apabila dalam proses pembelajaran guru terampil dalam memilih dan menentukan metode serta media pembelajaran yang disesuaikan dengan materi ajar.
Sebagai bukti bahwa pembelajaran itu berhasil adalah adanya hasil evaluasi yang mencapai nilai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan. Pada hasil evaluasi siklus II 35 dari 38 siswa mengalami ketuntasan. Nilai rata-rata kelas mencapai 68. Hal ini terbukti dari perolehan tes formatif yang dilaksanakan gBAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.       Deskripsi Per Siklus
Dalam bagian ini disajikan hasil penelitian yang sesuai dengan analisis dan tujuan penelitian. Pada awal pembelajaran (pra siklus) proses pembelajaran belum mengalami setiap ketuntasan, pada siklus I terdapat peningkatan hasil pembelajaran setelah guru menggunakan metode konstruktivisme, pada siklus II hasil pembelajaran mengalami ketuntasan setelah guru menggunakan media tabung lidi warna. Selanjutnya hasil pembelajaran diungkap dalam deskripsi per siklus sebagai berikut:
Siklus I
1.      Perencanaan
Hasil perencanaan berupa: merancang pembelajaran dengan metode konstruktivisme; membuat rencana perbaikan pembelajaran; menyiapkan media pembelajaran; menyusun lembar observasi; merancang tes formatif dan mengevaluasi hasil tes, telah dapat menunjang pelaksanaan proses pembelajaran.
2.      Pelaksanaan
Hasil yang dicapai pada proses pembelajaran berorientasi pada kegiatan guru di kelas, antara lain:
a.          Kegiatan awal berupa: berdoa, mencatat kehadiran siswa, menyiapkan buku pelajaran, mengadakan apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Hal tersebut dapat memotivasi siswa dalam mengarahkan dan mempersiapkan siswa untuk mengikuti pelajaran dengan baik.
b.         Kegiatan inti berupa:  informasi, penjelasan materi pelajaran, mengadakan tanya jawab, membentuk kelompok diskusi, memberi tes formatif, penilaian dan tindak lanjut PR. Hal tersebut dapat membantu siswa memperjelas materi belajar di kelas sehingga siswa mampu mendeskripsikan dan menganalisis materi pelajaran dari pokok bahasan tentang operasi bilangan.
c.          Kegiatan akhir berupa: pelaksanaan tes formatif, sehingga guru dapat mengukur keberhasilan proses pembelajaran melalui ketuntasan nilai yang diperoleh siswa. Pada siklus I terdapat peningkatan hasil evaluasi karena guru telah melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode konstruktivisme dan tanya jawab yang hasilnya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menerima materi pelajaran.
3.      Pengamatan
Observer mengamati jalannya pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru dan kegiatan siswa yang hasilnya: persiapan = sedang ; membuka pelajaran = sedang ; memotivasi siswa = kurang ; penguasaan materi = sedang;
penyajian sesuai dengan uruta materi = sedang ; metode = sedang ; bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar = sedang ; pelaksanaan evaluasi = sedang ; pelaksanaan sesuai alokasi waktu = sedang ; penggunaan media = kurang ; mengakhiri pembelajaran = sedang.
4.      Refleksi
REKAPITULASI LEMBAR OBSERVASI
AKTIVITAS GURU SELAMA PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran         :           Matematika
Siklus                       :           I (satu)
Hari / Tanggal          :           Rabu, 02 Maret 2011

NO
AKTIVITAS GURU
K
S
B
1
Persiapan
-
-
2
Membuka pelajaran
-
-
3
Memotivasi siswa
-
-
4
Penguasaan materi
-
-
5
Penyajian sesuai dengan urutan materi
-
-
6
Metode
-
-
7
Bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar
-
-
8
Pelaksanaan evaluasi
-
-
9
Pelaksanaan sesuai alokasi waktu
-
-
10
Penggunaan alat peraga
-
-
11
Mengakhiri pembelajaran
-
-

Cara mengatasi masalah
a.                Guru menguasai materi pembelajaran.
b.               Guru dalam menyampaikan materi menggunakan media pembelajaran yang menarik serta penggunaan metode yang bervariasi.
c.                Guru membuat perencanaan pembelajaran yang benar.
d.               Guru memotivasi siswa untuk memperhatikan penjelasan dengan sungguh-sungguh serta mendorong siswa agar berani bertanya tentang materi yang belum dimengerti.

Siklus II
1.      Perencanaan
Hasil perencanaan berupa merancang pembelajaran dengan membuat rencana perbaikan pembelajaran dengan menggunakan media berupa tabung lidi warna, menyusun lembar observasi, merancang tes formatif. Sehingga hasilnya  telah menunjang pelaksanaan proses pembelajaran secara sistematis artinya susunan program atau struktur dapat diketahui yang tersedia ruang lingkupnya.
2.      Pelaksanaan
Hasil yang dicapai pada proses pembelajaran berorientasi pada kegiatan guru di kelas antara lain: memperagakan penggunaan media, mengadakan tanya jawab, member contoh soal yang berkaitan dengan media tabung lidi warna. Hal ini dapat mengaktifkan siswa dalam mengikuti pelajaran sehingga siswa mampu menganalisis materi pelajaran dengan pokok bahasan operasi penjumlahan bilangan sampai 500.
3.       Pengamatan
Observer mengamati jalannya pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan guru dan kegiatan siswa yang hasilnya: persiapan = baik ; membuka pelajaran = baik ; memotivasi siswa = baik ; penguasaan materi = baik ; penyajian sesuai dengan urutan materi = baik ; metode = baik ; bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar = baik ; pelaksanaan evaluasi = baik ; pelaksanaan sesuai alokasi waktu = baik ; penggunaan media = baik ; mengakhiri pembelajaran = baik.
4.      Refleksi
REKAPITULASI LEMBAR OBSERVASI
AKTIVITAS GURU SELAMA PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran               :           Matematika
Siklus                             :           II (dua)
Hari / Tanggal                :           Rabu, 09 Maret 2011

NO
AKTIVITAS GURU
K
S
B
1
Persiapan
-
-
2
Membuka pelajaran
-
-
3
Memotivasi siswa
-
-
4
Penguasaan materi
-
-
5
Penyajian sesuai dengan urutan materi
-
-
6
Metode
-
-
7
Bimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar
-
-
8
Pelaksanaan evaluasi
-
-
9
Pelaksanaan sesuai alokasi waktu
-
-
10
Penggunaan alat peraga
-
-
11
Mengakhiri pembelajaran
-
-

Keberhasilan dan Kegagalan
           Merupakan deskripsi dari kegiatan evaluasi sebagai salah satu alat ukur keberhasilan proses pembelajaran sehingga dapat diketahui tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran yang berupa aspek ingatan,pemahaman, penerapan (aplikasi), analisis dan sintesis.

1.            Hasil evaluasi sebelum perbaikan
Tabel 1
Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika
Sebelum Perbaikan Pembelajaran
No
Rentang nilai
Jumlah
Prosentase (%)
1.
50-59
28
73,68
2.
60-69
5
13,16
3.
70-79
5
13,16
4.
80-89
0
0
5.
90-100
0
0

Jumlah
38
100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil evaluasi mata pelajaran Matematika dengan materi “ Penjumlahan Bilangan Sampai 500”, kelas II A Semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. Sebelum kegiatan perbaikan pembelajaran, dari 38 orang siswa yang mendapatkan nilai 50-59 sebanyak 28 siswa, nilai 60-69 sebanyak 5 siswa, nilai 70-79 sebanyak 5 siswa, serta yang mendapatkan nilai 80-89 dan 90-100 sebanyak 0 siswa.
Apabila hasil evaluasi mata pelajaran Matematika dengan materi “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” sebelum perbaikan pembelajaran tersebut disajikan dalam, maka terlihat seperti gambar berikut ini:

Gambar 1 :  Grafik Hasil Evaluasi Pra Siklus

2.            Tabel  hasil evaluasi siklus I
Tabel 2
Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika Siklus I

No
Rentang nilai
Jumlah
Prosentase (%)
1.
50-59
13
34,21
2.
60-69
15
39,47
3.
70-79
5
13,16
4.
80-89
5
13,16
5.
90-100
0
0

Jumlah
38
100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil evaluasi mata pelajaran Matematika dengan materi “ Penjumlahan Bilangan Sampai 500”, kelas II A Semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. Pada akhir perbaikan siklus I, dari 38 orang siswa yang mendapatkan nilai 50-59 sebanyak 13 siswa, nilai 60-69 sebanyak 15 siswa, nilai 70-79 sebanyak 5 siswa, mendapatkan nilai 80-89 sebanyak 5 siswa dan 90-100 sebanyak 0 siswa.
         Apabila hasil evaluasi mata pelajaran Matematika pada akhir kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I tersebut disajikan dalam diagram, maka akan terlihat pada gambar 2 berikut:


Gambar 2 : Grafik Hasil Evaluasi Siklus I



3.            Tabel hasil evaluasi siklus II
Tabel 3
Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika Siklus II

No
Rentang nilai
Jumlah
Prosentase (%)
1.
50-59
3
7,89
2.
60-69
17
44,74
3.
70-79
9
23,68
4.
80-89
5
13,16
5.
90-100
4
10,53

Jumlah
38
100

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat hasil evaluasi mata pelajaran Matematika dengan materi “ Penjumlahan Bilangan Sampai 500”, kelas II A Semester 2 SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. Pada akhir perbaikan siklus II, dari 38 orang siswa yang mendapatkan nilai 50-59 sebanyak 3 siswa, nilai 60-69 sebanyak  17 siswa, nilai 70-79 sebanyak 9 siswa, mendapatkan nilai 80-89 sebanyak 5 siswa dan 90-100 sebanyak 4 siswa.
Apabila hasil evaluasi mata pelajaran Matematika pada akhir kegiatan pembelajaran siklus II disajikan dalam diagram, maka akan terlihat seperti gambar 3 berikut :
Gambar 3  : Grafik Hasil Evaluasi Siklus II
Berdasarkan tabel 1, 2, dan 3 hasil perolehan data mata pelajaran Matematika dengan materi “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” kelas II A semester 2 ternyata ada peningkatan ketuntasan hasil belajar dari sebelum perbaikan pembelajaran siklus I sampai siklus II, siswa yang tuntas adalah siswa yang mendapat nilai 60 ke atas dalam kegiatan pembelajaran. Pada kegiatan pembelajaran pra- siklus ada 10 siswa yang mencapai nilai tuntas yaitu sekitar 26%. Pada kegiatan perbaikan pembelajaran siklus I mengalami peningkatan menjadi 24 siswa atau 63%. Dan pada perbaikan pembelajaran siklus II bertambah meningkat menjadi 35 siswa atau 92%. Dengan demikian peneliti tidak perlu lagi melanjutkan ke perbaikan pembelajaran siklus III, karena sudah lebih dari 80% siswa yang mendapatkan nilai tuntas. Apabila hasil perolehan data tersebut disajikan dalam bentuk tabel, maka dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini :


Tabel 4
Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar
NO
KETUNTASAN
PRA-SIKLUS
SIKLUS I
SIKLUS II
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%
1
Tuntas
10
26
24
63
35
92
2
Belum Tuntas
28
74
14
37
3
8

Dengan melihat data diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Sebelum perbaikan pembelajaran (pra–siklus) siswa yang tuntas hanya 10 dari 38 siswa (26%)
b.      Pada siklus I siswa yang tuntas hanya 24 dari 38 siswa (63%)
c.       Pada siklus II siswa yang tuntas 35 dari 38 siswa (92%)
Sedangkan siswa yang belum tuntas sebagai berikut:
a.          Sebelum perbaikan pembelajaran (pra–siklus), 28 siswa belum tuntas (74%)
b.         Pada siklus I 14 dari 38 siswa belum tuntas (37%)
c.          Pada siklus II hanya ada 3 dari 38 siswa yang belum tuntas (8%)
Bila ketuntasan hasil belajar dalam bentuk diagram, maka dapat dilihat pada gambar 4 berikut ini:




Gambar 4 : Grafik Ketuntasan Hasil Evaluasi Belajar Siswa

B.        Pembahasan dari Setiap Siklus
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari proses perbaikan pada pra-siklus, perbaikan siklus I dan siklus II terbukti bahwa pembelajaran memerlukan kompetensi yang tinggi dari seoran guru. Banyak faktor yang mempengaruhi kegagalan dan keberhasilan suatu pembelajaran.
Dari beberapa kajian teori mengenai pembelajaran, yang paling menemukan keberhasilan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Pengelolaan pembelajaran itu meliputi cara memilih strategi, metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran.
SIKLUS I
Pembelajaran pada siklus I masih terdapat hal yang belum dilaksanakan oleh guru secara optimal seprti penggunaan media sehingga tingkat pemahaman siswa terhadap materi ajar masih rendah.
Pelaksanaan diskusi kelompok masih kurang menarik minat siswa. Hal ini disebabkan kurang jelasnya penjelasan/instruksi guru kepada siswa dalam menyelesaikan tugas.
Hasil analisis penilaian menunjukkan masih rendahnya pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Dari 38 siswa yang mendapat nilai tuntas hanya 24 siswa dan 14 siswa blum mencapai nilai tuntas. Nilai rata-rata kelas 60. Dengan demikian peneliti merencanakan perbaikan pembelajaran siklus II.
SIKLUS II
Pada pelaksanaan pembelajaran siklus II peneliti merancang pembelajaran dengan persiapan yang lebih matang. Media yang digunakan berupa tabung lidi warna untuk tiap 5 kelompok kerja siswa.
Analisis penilaian hasil yang diperoleh lebih baik dari pada perbaikan pembelajaran siklus I. Keberhasilan pembelajaran ini disebabkan karena dalam proses pembelajaran guru menggunakan media secara efektif disertai penjelasan penggunaan metode konstruktivisme dan metode penunjang berupa metode pemberian tugas dan diskusi kelompok, sehingga dengan tugas yang dirancang akan memperjelas informasi guru. Selain itu, keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas kelompok akan meningkatkan pemahaman terhadap materi pembelajaran.
Dengan demikian, seperti apa yang dikemukakan pada kajian teori bahwa pembelajaran akan menyenangkan dan bermakna apabila dalam proses pembelajaran guru terampil dalam memilih dan menentukan metode serta media pembelajaran yang disesuaikan dengan materi ajar.
Sebagai bukti bahwa pembelajaran itu berhasil adalah adanya hasil evaluasi yang mencapai nilai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan. Pada hasil evaluasi siklus II 35 dari 38 siswa mengalami ketuntasan. Nilai rata-rata kelas mencapai 68. Hal ini terbukti dari perolehan tes formatif yang dilaksanakan guru setelah proses pembelajaran selesai guru setelah proses pembelajaran selesai. 
BAB V
PENUTUP
            Pada bagian Bab V, peneliti akan mengemukakan tentang hasil selama melaksanakan perbaikan pembelajaran di kelas II A SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang berupa kesimpulan, saran, dan tindak lanjut sebagai berikut:
A.       Kesimpulan
1.         Perbaikan pembelajaran yang dikemas dalam penelitian ini mengambil konsep mata pelajaran Matematika dengan materi “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” pada siswa kelas II A SD Negeri Pendrikan Lor. Pada dasarnya matematika merupakan mata pelajaran yang bersifat universal, artinya informasi dan pembahasan yang dilaksanakan oleh guru mencakup atau berkaitan dengan disiplin ilmu lain dengan model tematik. Hasil tes formatif didapat dari 38 siswa terdapat 5 siswa yang mendapatkan nilai 60 sedangkan sebanyak 28 siswa mendapat nilai di bawah 60 atau rata-rata 5. Sehingga pembelajaran dinyatakan belum tuntas dan perlu diadakan perbaikan pembelajaran siklus I dan siklus II. Mata pelajaran Matematika bagi siswa SD merupakan hal yang sulit karena cakupan materinya sangat luas sehingga guru perlu menggunakan metode pembelajaran konstruktivisme dan media pembelajaran berupa tabung lidi warna sebagai upaya peningkatan hasil hasil belajar siswa tentang “Penjumlahan Bilangan Sampai 500”.
2.         Dalam teori pembelajaran dari modul menyatakan bahwa pembelajaran Matematika definisi metode konstruktivisme ada kelebihannya:
a.       Siswa dapat memahami sesuai obyek sebenarnya
b.      Siswa dapat mengamati sesuatu secara proses
Sedangkan kelemahannya adalah:
a.       Dapat menimbulkan berfikir konkret saja
b.      Banyak siswa yang kurang berani
3.         Pada pelaksanaan penelitian perbaikan pembelajaran, kompetensi dasar melakukan “Penjumlahan Bilangan Sampai 500” subjek penelitian adalah  siswa SD Negeri Pendrikan Lor 01 dengan jumlah siswa 38 yang karakteristiknya terlampir. Pelaksanaan siklus I diawali dengan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
4.         Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I saat guru menggunakan metode diskusi
B.        Saran
Berdasarkan  pengalaman peneliti selama melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), peneliti kemukakan saran dan tindak lanjut sebagai berikut:
1.      Guru seyogyanya memberdayakan media pembelajaran di sekitar, agar pembelajaran menyenangkan.
2.      Guru hendaknya menciptakan situasi yang PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan), sehingga hasil belajar siswa akan optimal.
3.      Guru hendaknya meningkatkan kompetensi mengajar dan kemampuan professional agar dapat mengelola pembelajaran secara efektif dan efisien.
4.      Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini dapat dijadikan bahan kajian bagi guru lain untuk melakukan penelitian yang sama.

 DAFTAR  ISI
HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………   i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………..  ii
LEMBAR PENGESAHAN  ……………………………………………………….. iii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………. iv
DAFTAR TABEL …………………………………………………………………. vi
DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………….... vii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ……………………………………………………………… 1
B.     Rumusan Masalah …………………………………………………………..  4
C.     Tujuan Penelitian …………………………………………………………… 4
D.    Manfaat Penelitian ………………………………………………………….. 5
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A.    Penerapan Metode Konstruktivisme dalam Pembelajaran …………………. 6
B.     Peranan Metode Konstruktivisme dalam Pendidikan ……………………… 8
BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A.    Subjek Penelitian …………………………………………………………..  10
B.     Deskripsi Per-Siklus ……………………………………………………….  10
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Per-Siklus ……………………………………………………….  16
B.     Pembahasan dari Setiap Siklus …………………………………………….  26


BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………………… 28
B.     Saran ……………………………………………………………………….. 29
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………… 30
LAMPIRAN-LAMPIRAN






 DAFTAR  TABEL

Tabel 1 Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika Sebelum Perbaikan Pembelajaran …. 20
Tabel 2 Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika Siklus I ……………………………... 21
Tabel 3 Hasil Evaluasi Mata Pelajaran Matematika Siklus II ……………………………. 23
Tabel 4 Peningkatan Ketuntasan Hasil Belajar Siswa ……………………………………. 25














DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Grafik Hasil Evaluasi Pra Siklus …………………………………………. 21
Gambar 2 Grafik Hasil Evaluasi Siklus I ……………………………………………. 22
Gambar 3 Grafik Hasil Evaluasi Siklus II ………………………………………….... 24
Gambar 4 Grafik Ketuntasan Hasil Evaluasi Belajar Siswa …………………………. 26





 REFLEKSI PRA SIKLUS
Mata Pelajaran            :           Matematika
Kelas / Semester          :           II (dua) / 2 (dua)
Materi Pokok              :           Operasi Hitung Bilangan
 

Refleksi
Saya guru kelas II SD Negeri Pendrikan Lor 01 Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang, setelah melakukan kegiatan pembelajaran Matematika dengan materi pokok operasi hitung bilangan yang melibatkan berbagai bentuk nilai bilangan ternyata mengalami beberapa masalah yang muncul pada saat proses pembelajaran. Hal itu sangat mempengaruhi hasil tes formatif siswa yang sebagian besar belum mencapai target standar ketuntasan minimal (KKM). Dari 38 siswa hanya 10 siswa yang nilainya diatas rata-rata 60, berarti hanya 10 siswa yang dapat mencapai target ketuntasan atau sekitar 26 %.
Ketidakberhasilan siswa dalam mencapai target ketuntasan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Dari hasil diskusi antara guru dengan teman sejawat menghasilkan beberapa deskripsi faktor-faktor yang menyebabkan ketidakberhasilan tersebut, antara lain:
a.             Dari Guru
1.            Metode yang digunakan hanya ceramah saja
2.            Kurangnya menggunakan media dalam pembelajaran
3.            Kurang memotivasi siswa
4.            Kurang memberikan soal-soal latihan pada siswa
b.            Dari Siswa
1.            Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pelajaran
2.            Siswa kurang mampu merespon pertanyaan guru dengan benar
3.            Siswa kelihatan pasif
4.            Siswa tidak bersemangat atau bosan
5.            Siswa kurang berlatih soal-soal latihan
Oleh karena itu, guru sangat menyadari akan kekurangannya dalam menyampaikan materi pembelajaran Matematika tentang penjumlahan bilangan sampai 500 di kelas II semester 2 ini. Maka dari itu, guru mengambil langkah merencanakan kegiatan perbaikan pembelajaran pada siklus I.



















REFLEKSI PERBAIKAN PEMBELAJARAN
(SIKLUS I)
Mata Pelajaran            :           Matematika
Kelas / Semester          :           II (dua) / 2 (dua)
Materi Pokok              :           Operasi Hitung Bilangan
Waktu                         :           2 x 35 menit (1 x pertemuan)
Hari / Tanggal             :           Rabu, 02 Maret 2011
Tempat                        :           Ruang Kelas II A SD Negeri
Pendrikan Lor 01 Kecamatan
Semarang Tengah Kota Semarang
 

A.          Refleksi
Setelah peneliti memberikan pembelajaran siklus I mata pelajaran Matematika materi pokok “Penjumlahan Bilangan” dan evaluasinya, maka dari 38 siswa hanya 24 siswa yang mencapai ketuntasan, atau hanya sekitar 63 %. Dalam hal ini sudah terjadi peningkatan hasil pembelajaran siswa, yaitu sekitar 37 % dari pembelajaran pra siklus. Walaupun demikian masih perlu diperbaiki dalam proses pembelajaran pada siklus II, karena belum ada 80 % siswa yang mencapai ketuntasan.
B.           Permasalahan
Beberapa permasalahan yang timbul pada saat pelaksanaan pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut:
1.            Hanya beberapa siswa saja yang mau dan berani untuk mengajukan pertanyaan tentang materi yang diajarkan
2.            Guru kurang menarik minat siswa ketika proses pembelajaran berlangsung dan tidak mau mengulang untuk menjelaskan kembali hal-hal yang diyakini sulit untuk diterima atau dipahami oleh siswa
3.            Guru dalam menggunakan media pembelajaran kurang optimal
4.            Perhatian guru terhadap siswa kurang, sehingga ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan ketika proses pembelajaran berlangsung
C.          Cara Mengatasi
1.            Guru memberikan pertanyaan lemparan kepada siswa
2.            Guru mengajak siswa untuk bermain dengan permainan yang mengarah pada materi yang akan disampaikan dan memberikan penjelasan berulang pada hal-hal yang kurang dimengerti atau dipahami siswa
3.            Guru mengoptimalisasi penggunaan media pembelajarannya
4.            Guru memperhatikan siswanya dengan pandangannya yang tertuju ke semua siswa
D.          Identifikasi Masalah
Dalam mengidentifikasikan masalah yang dihadapi pada pembelajaran siklus I yang dibantu oleh teman sejawat, ditemukan hal-hal yang mempengaruhi perolehan nilai tes hasil belajar, yaitu sebagai berikut:
1.            Guru kurang optimal dalam menerapkan metode konstruktivisme, yang dapat membentuk kemampuan awal siswa terhadap materi yang diajarkan
2.            Guru hanya semata-mata memberikan penjelasan cara menggunakan media tabung lidi warna pada siswa, bukan memahamkannya.
E.           Fokus Perbaikan
1.            Pengoptimalan penerapan metode konstruktivisme, dengan cara membentuk kemampuan awal siswa
2.            Memahamkan siswa dalam mengaktifkan proses berfikirnya dengan media tabung lidi warna





REFLEKSI PERBAIKAN PEMBELAJARAN
(SIKLUS II)
Mata Pelajaran            :           Matematika
Kelas / Semester          :           II (dua) / 2 (dua)
Materi Pokok              :           Operasi Hitung Bilangan
Waktu                         :           2 x 35 menit (1 x pertemuan)
Hari / Tanggal             :           Rabu, 09 Maret 2011
Tempat                        :           Ruang Kelas II A SD Negeri
Pendrikan Lor 01 Kecamatan
Semarang Tengah Kota Semarang
 

A.          Refleksi
Setelah peneliti memberikan pembelajaran siklus II mata pelajaran Matematika materi pokok “Penjumlahan Bilangan” dan evaluasinya, maka dari 38 siswa didapati 35 siswa yang sudah mencapai ketuntasan, atau sekitar 92 %. Dalam hal ini sudah terjadi peningkatan hasil pembelajaran siswa, yaitu sekitar 29 % dari pembelajaran siklus I. Dengan demikian, sudah ada lebih dari 80 % siswa yang mencapai ketuntasan dan hanya 8 % saja yang masih dibawah standar ketuntasan belajar minimal.
B.           Permasalahan
Beberapa permasalahan yang timbul pada saat pelaksanaan pembelajaran siklus II terhadap 8 % siswa yang masih mendapatkan nilai dibawah KKM, yaitu sebagai berikut:
1.            8 % siswanya tersebut masih tidak mau dan berani untuk mengajukan pertanyaan tentang materi yang diajarkan
2.            Guru kurang menarik minat 8 % siswanya tersebut ketika proses pembelajaran berlangsung dan tidak mau mengulang untuk menjelaskan kembali hal-hal yang diyakini sulit untuk diterima atau dipahami oleh beberapa siswa tersebut
3.            Guru dalam menggunakan media pembelajaran bagi 8 % siswa tersebut kurang optimal
4.            Perhatian guru terhadap 8 % siswanya tersebut kurang, sehingga tidak memperhatikan ketika proses pembelajaran berlangsung
C.          Cara Mengatasi
1.            Guru memberikan pertanyaan lemparan kepada 8% siswa tersebut
2.            Guru mengajak 8 % siswa tersebut untuk bermain dengan permainan yang mengarah pada materi yang akan disampaikan dan memberikan penjelasan berulang pada hal-hal yang kurang dimengerti atau dipahami siswa
3.            Guru mengoptimalisasi kembali penggunaan media pembelajarannya kepada 8% siswa tersebut
4.            Guru memperhatikan 8 % siswanya tersebut dengan pandangannya yang tertuju
D.          Identifikasi Masalah
Dalam mengidentifikasikan masalah yang dihadapi pada pembelajaran siklus II yang dibantu oleh teman sejawat, tidak ditemukan hal-hal signifikan yang mempengaruhi perolehan nilai tes hasil belajar. Mungkin karena siswa sudah mengerti dan memahami materi pembelajaran yang diajarkan. Dan siswa yang hanya 8 % saja yang masih mendapaytkan nilai dibawah KKM perlu dilakukan bimbingan belajar.
E.           Fokus Perbaikan
1.            Pengoptimalan kembali penerapan metode konstruktivisme, dengan cara membentuk kemampuan awal siswa terhadap 8 % siswanya yang masih belum tuntas nilainya
2.            Memahamkan kembali 8 % siswanya dalam keaktifannya berfikir dengan menggunakan  media tabung lidi warna
 

 RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN

Mata Pelajaran            :           Matematika
Kelas / Semester          :           II (dua) / 2 (dua)
Materi Pokok              :           Operasi Hitung Bilangan
Waktu                         :           2 x 35 Jampel (1 x pertemuan)
 

A.          Standar Kompetensi
Ø   Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

B.           Kompetensi Dasar
Ø   Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan sampai 500

C.          Indikator
Ø   Menjumlahkan bilangan dengan satu kali teknik menyimpan

D.          Tujuan Pembelajaran
Ø   Melalui penerapan metode konstruktivisme, siswa dapat menyelesaikan soal penjumlahan dengan satu kali teknik menyimpan dan soal cerita
Ø   Melalui media tabung lidi warna, siswa dapat menyelesaikan soal penjumlahan dengan satu kali teknik menyimpan

E.           Metode Pembelajaran
1.            Metode: ceramah, tanya jawab, demonstrasi (konstruktivisme), dan tugas
2.            Media: tabung lidi warna, kartu bilangan
3.            Sumber Belajar: silabus tematik Kelas II SD, buku BSE, buku Matematika 2 Acarya Media Utama


F.           Materi Pembelajaran
Ø   Operasi hitung bilangan
1.            Cara menjumlahkan bilangan dengan satu kali teknik menyimpan
Contoh 1 (cara bersusun panjang)
225   =          200      +          20        +          5
116   =          100      +          10        +          6          +
         =          300      +          30        +          11
         =          300      +          40        +          1
         =          341
Contoh 2 (cara bersusun pendek)
         Jumlahkan satuannya: 5 + 6 = 11,ditulis 1 simpan 1 puluhan
225              
116   +          Jumlahkan puluhannya: 1 + 2 + 1 = 4
341               Jumlahkan ratusannya: 2 + 1 = 3       
               
G.          Kegiatan Pembelajaran
a.       Kegiatan Awal (5 menit)
·               Mengadakan tanya jawab materi pelajaran yang lalu yaitu menyebutkan macam-macam symbol yang digunakan dalam pengerjaan operasi hitung bilangan
·               Membaca symbol +, -, = dalam pengerjaan operasi hitung bilangan
b.      Kegiatan Inti (40 menit)
·               Guru menjelaskan cara menjumlah bilangan dengan satu kali teknik menyimpan
·               Guru memberikan pertanyaan pada siswa cara menyelesaikan soal penjumlahan bilangan dengan satu kali teknik menyimpan
·               Beberapa siswa ditunjuk untuk mengerjakan contoh soal di papan tulis
·               Guru menjelaskan cara menggunakan media tabung lidi warna
·               Beberapa siswa ditunjuk untuk menyelesaikan soal dengan media tabung lidi warna
·               Guru melakukan penekanan penjelasan kepada siswa tentang penggunaan media tabung lidi warna
c.       Kegiatan Akhir (20 menit)
·               Mengadakan evaluasi
·               Mengoreksi hasil evaluasi
·               Memberi PR (sebagai program tindak lanjut)

H.          Evaluasi
a)            Prosedur
v   Tes awal                   : ada pada apersepsi
v   Tes dalam proses      : siswa mengerjakan soal di papan tulis
v   Tes akhir                   : evaluasi

b)            Jenis Tes                            : Tertulis
c)            Bentuk Tes                        : Isian


Semarang, 30 April 2011
Mengetahui
Kepala SD Marsudirini,                                  Praktikan,


Sr. M. LAURENTINE OSF, S. Pd.                        RACHMAT KARNO UTOMO
 NIP -                                                              NIM 819 061 076



LEMBAR KERJA DEMONSTRASI KELOMPOK

Mata Pelajaran            :           Matematika
Kelas / Semester          :           II (dua) / 2 (dua)
Materi Pokok              :           Operasi Hitung Bilangan
Waktu                         :           2 Jampel (1 x pertemuan)
 

Kegiatan:
Kerjakan salah satu soal berikut ini bersama kelompokmu di depan kelas dengan menggunakan media tabung lidi warna!
Lingkarilah nomor soal yang kamu pilih!
1.                  245      +          128      =                              Nama Kelompok         : ………
2.                  342      +          176      =                              Anggota Kelompok    :
3.                  228      +          114      =                              1. ………………………
4.                  319      +          175      =                              2. ………………………
5.                  280      +          169      =                              3. ………………………
6.                  391      +          152      =                              4. ………………………
7.                  267      +          127      =                              5. ………………………






SOAL TES FORMATIF

Mata Pelajaran            :           Matematika
Kelas / Semester          :           II (dua) / 2 (dua)
Materi Pokok              :           Operasi Hitung Bilangan
Waktu                         :           2 Jampel (1 x pertemuan)
 

A.          Kerjakan dengan cara bersusun panjang!
225      =                      +                      +         
116      =                      +                      +                      +
            =                      +                      +         
            =                      +                      +         
            =         

275      =                      +                      +         
142      =                      +                      +                      +
            =                      +                      +         
            =                      +                      +         
            =         


347      =                      +                      +         
125      =                      +                      +                      +
            =                      +                      +         
            =                      +                      +         
            =         

275      =                      +                      +         
134      =                      +                      +                      +
            =                      +                      +         
            =                      +                      +         
            =         

283      =                      +                      +         
116      =                      +                      +                      +
            =                      +                      +         
            =                      +                      +         
            =         

B.           Kerjakan dengan cara bersusun pendek!
1.      236                           2.         238                              5.         272                 
149 +                                    126 +                                       165 +



1.      235                           4.         312
182 +                                    129 +


 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar